DUNIA PENYIARAN DALAMPUSARAN REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Yogyakarta (26/06/2019) – KPID DIY menyelenggarakan Literasi media dengan tema “Dunia Penyiaran dalam Pusaran Revolusi Industri 4.0”, yang bertempat di Universitas Cokroaminoto Yogyakarta. Literasi Media merupakan salah satu agenda rutin yang dilaksanakan oleh KPID DIY. Hal ini bertujuan untuk mengedukasi publik dalam cerdas bermedia, tidak menelan mentah-mentah isi siaran radio dan televisi. Publik harus mampu memilih, memilah, dan mengkritisi pesan media. Literasi tersebut dihadiri oleh Dekan dan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Cokroaminoto Yogyakarta. Literasi Media ini dimoderatori oleh Dewi Nurhasanah, S.Th.I.,M.A. Komisioner KPID DIY Anggota Bidang Pengawasan Isi Siaran , dan narasumber dari KPID DIY Hajar Pamundi, S.T., selanjutnya Andrie Irawan, S.H., M.H. dari Dosen FH UCY.

Literasi media ini diawali dengan sambutan dari Dekan FH UCY, Ibu Iin Sunny Atmadja, S.H.,M.H. beliau menyampaikan bahwa Regulasi tentang penyiaran sudah di perjuangkan sejak lama, belajar regulasi tentang penyiaran sangat penting bagi mahasiswa Hukum harapannya kerjasama dengan KPID DIY dapat diteruskan kedepannya. Drs. I Made Arjana Gumbara selaku Ketua KPID DIY juga memberikan sambutannya, Sebagai anak muda yang berpendidikan jangan sampai ikut menerima dan menyebarkan suatu informasi yang salah, sehingga setiap informasi harus di kritisi dan dikroscek terlebih dahulu.

Memasuki era industri 4.0, media tidak lagi satu arah melainkan dua arah. Hal ini menuntut adanya sinergitas media konvensional dengan media kekinian. Begitupun media penyiaran televisi dan radio, harus bersinergi dengan teknologi internet agar tidak ketinggalan. Hal ini tentu memiliki pengaruh terhadap budaya menikmati siaran baik Radio maupun TV, sebelumnya hanya dapat dinikmati secara pasif namun era saat ini dengan dukungan media sosial telah menjadi media interaksi dua arah. Publik bisa menanggapi siaran yang diterimanya, dengan menggunakan gadget. Tidak jarang hal ini mengakibatkan konflik, karena adanya hoax yang diterima secara mentah-mentah oleh publik.

Paparan pertama disampaikan oleh Andrie Irawan mengenai Cerdas dan bijak bermedia sosial, “Era Revolusi Industri 4.0, merupakan jamannya media online atau sosial media. Kita sudah tidak berbicara media satu arah, namun saat ini sudah dua arah. Sehingga pergunakanlah dengan bijaksana, tetap selektif dalam menerima informasi”. Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa sebagai mahasiswa tidak boleh menjadi salah satu pihak yang menerima informasi secara mentah dan ikut serta menyebarkan hoax.

Hajar Pamundi, S.T. pada kesempatan ini menyampaikan bahwa saat ini sudah memasuki era Oligopoly Media maksudnya adalah, adanya konvergensi media, antara satu media dengan media lainnya saling bersinergi atau dengan kata lain kepemilikan beberapa media hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki banyak modal. Media semestinya harus mentaati asas, hukum, tujuan, fungsi dan arah penyelenggaraan penyiaran sesuai dengan kebutuhan publik.   

Literasi Media berjalan dengan kondusif dan interaktif. Mahasiswa FH UCY, begitu antusias dalam Literasi Penyiaran hal ini terlihat dari sesi diskusi. Mahasiswa bertanya terhadap dua narasumber terkait pemaparan yang disampaikan oleh narasumber. Salah satunya adalah Syafaa yang menanyakan terkait peristiwa 21 Mei 2019, “adanya kekacauan dalam media terkait pemilu harus ditanggapi seperti apa?”. Narasumber menyampaikan bahwa sebagai masyarakat yang cerdas dan kritis, harus mengumpulkan informasi tidak hanya pada satu media saja namun harus dari berbagai sumber. Melalui literasi media ini diharapkan agar kedepannya mahasiswa dapat ikut serta mengedukasi orang-orang disekitarnya, agar bijaksana dalam menggunakan dan menerima informasi dari media. 

Berita Terkait :


KOMENTAR PEMBACA
procesing . . .