Kisah Masyarakat Yang Rela Antre Untuk Bersalaman Dengan Sri Sultan

Yogyakarta (21/06/2018) Bukan suatu halangan bagi warga untuk bisa bertemu dengan pemimpinnya. Jarak tempuh yang jauh bukan halangan. Hal itu justru menjadi bagian dari perjuangan untuk bisa berjumpa Gubernur DIY yang juga Raka Kraton Ngayogyakarta.

Hal itulah yang dilakukan para warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang hendak berduyun-duyun datang ke acara Open House Gubernur DIY dan Wakil Gubernur DIY di Bangsal Kepatihan, Yogyakarta. Suasana Kamis (21/06) pagi di halaman Bangsal Kepatihan sudah dipenuhi masyarakat yang datang ingin bersalaman dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta GKR Hemas dan KGPAA Paku Alam X beserta GBRAy. A Paku Alam.

Seperti halnya Mbah Parto Utomo, wanita asal Cangkringan, Jetis, Bantul ini bahkan telah berusia 100 tahun. Usia yang rentan dan jarak yang cukup jauh tak menyurutkan semangatnya untuk bisa bertatap muka dengan Sri Sultan HB X.

"Tadi saya ke sini dengan teman-teman, naik bus. Saya ini dari desa. Ini sudah yang kedua kalinya saya menghadiri syawalan dan bertemu Sultan," ungkapnya.

Mbah Parto bahkan melepas alas kakinya begitu masuk halaman Bangsal Kepatihan. Saat ditanya alasan mengapa membuka alas kaki, Mbah Parto mengatakan, ia merasa tidak sopan karena ia hanya menggunakan sandal plastik, padahal akan bertemu dengan Sri Sultan. Sandal plastik miliknya, ia masukkan dalam kantong plastik dan digunakan kembali saat sudah berada di luar halaman Bangsal Kepatihan.

“Alasan saya ingin ketemu Sultan karena mau meminta keselamatan, dilancarkan rezeki, diberi kesehatan dan diberi cucu buyut yang pintar," imbuhnya.

Euforia yang dirasakan warga masyarakat juga meliputi seorang warga negara Pakistan bernama Curatulen. Curatulen mengaku sangat terkesan dan bangga bisa bertemu dengan Sri Sultan HB X. Kedatangannya ke Jogja sendiri dalam rangka berwisata, dan Yogyakarta menjadi salah satu destinasi yang telah direncanakannya. “Selain berkunjung, saya sebenarnya ingin melihat kebudayaan dan orang-orang Jogja,” jelasnya.

Dalam kerumunan orang berbondong-bondong, tak mengenal tua, muda, kecil, semuanya tampak sabar menanti barisan antrean. Tidak ada kericuhan yang terjadi dalam seluruh rangkaian dalam Open House Syawalan 1439 H. Hingga disuatu kerumunan, hadir pemeran Ledhek Gogik Drs. Budi Prasojo. Kehadirannya membuat suasana antrian berubah dengan serbuan berswafoto.

 

Drs. Budi Prasojo yang merupakan warga Umbulharjo mengaku, ia berlakon untuk melestarikan budaya kesenian Ledhek Gogik yang sudah hampir punah. Sudah delapan tahun menggendong. “Hingga ke Pak Presiden sampai Sri Sultan HB X saya tetap menggunakan pakaian ini. Menurut saya, ini sekaligus mengenalkan budaya kesenian Indonesia,” ucap pelakon Ledhek Gogik asli Jogja itu.

Berita Terkait :


KOMENTAR PEMBACA
procesing . . .